Si Miskin yang Serakah

Jaman dahulu kala, di sebuah desa di pinggiran kali Brantas, hiduplah seorang petani yang sangat miskin. Dia hidup sebatangkara. Karena miskinnya, untuk makanpun susah, hingga badannya tampak kurus  kering. Orang sering memanggilnya pak tua. Sebetulnya umurnya belum terlalu tua, tetapi karena miskinnya hingga badannya tidak terurus. Ia tampak seperti layaknya orang yang sudah berumur.

Setiap pagi pak tua berangkat ke ladang. Sepetak ladang di pinggiran desa merupakan harta milik pak tua satu-satunya. Itulah harapan hidup pak tua. Dengan tekun, tiap hari dari pagi hingga menjelang petang, pak tua berkebun di ladang. Apa saja ia lakukan demi menyambung sisa hidupnya.

Siang itu terik matahari menyengat tubuh. Pak tua sedang beristirahat di ladangnya sambil terkantuk-kantuk. Tiba-tiba telinganya dikejutkan oleh bunyi rintihan mencicit. Cit.. cit.. cit.. Pak tua segera membuka matanya. Ia segera melempar pandangannya ke arah suara itu berasal. Betapa terkejutnya pak tua. Ternyata suara rintihan yang mencicit itu berasal dari suara tupai yang sedang bertarung dengan burung gagak. Si tupai tengah berjuang mempertahankan hidupnya, tetapi nampaknya si gagak lebih perkasa. Si tupai terkapar tak berdaya. Di sekujur tubuhnya  penuh luka.

Pak tua iba melihatnya. Ia segera bergegas mendekati si tupai. “Jangan takut, aku akan menolongmu”, kata pak tua dengan penuh kasih sayang. Dengan hati-hati pak tua mengangkat si tupai yang sudah terluka. Ia segera membawanya  pulang. Pak tua merawat si tupai yang terluka dengan penuh kesabaran. Ia obati luka-lukanya, ia bersihkan badannya, dan ia ijinkan si tupai tidur di tempat tidurnya.

Hari terus berlalu. Seminggu sudah si tupai dirawat oleh pak tua. Badannya mulai tampak sehat dan bugar. Luka-lukanya sudah tak ada lagi ditubuhnya. Pada suatu malam, sambil mengelus bulu-bulunya yang halus Pak Tua berkata “kini kamu telah sembuh, mulai besok kamu boleh pergi kemana kau suka”. Si tupai diam saja, seakan ia turut merasakan kesediahan pak tua. Usianya semakin tua, tapi hidupnya makin menderita.

Esok harinya ketika pak tua terbangun dari tidurnya, si tupai telah pergi. Kini hidup pak tua kembali hampa. Tak ada lagi teman yang bisa diajaknya bercengkrama. Pak tua kembali sebatangkara. Hari-hari sepinya kembali digunakan untuk bekerja seperti biasa. Pergi pagi dan pulang sore menjelang senja.

Tanpa terasa, sebulan telah berlalu. Pada suatu malam, pak tua dikejutkan lagi oleh suara yang tidak asing ditelinganya.Cit.. cit…cit..  Pak tua segera membuka matanya,  tapi  Ia belum beranjak dari tempat tidurnya. Ia masih memastikan, apakah ia bermimpi. Ia cubit telinganya. “aduuh”, teriak pak tua. Ternyata aku tidak bermimpi. Ia segera bergegas menuju pintu. Tidak salah lagi, si tupai yang selama ini dirindukannya telah kembali. Si tupai melompat ke pelukannya. Dan pak tua segera menyambutnya. Dielusnya bulunya yang makin halus. Didekapnya si tupai erat-erat, seakan ingin melepas kerinduannya. Namun, betapa terkejutnya pak tua ketika melihat mulut si tupai. Ternyata ia menggigit benda bening yang berkilauan. Lalu, diambillah benda itu dari mulut si tupai. “Mungkinkah ini berlian?”, bisik pak tua. Dilihatnya benda bulat itu berulang-ulang. Namun, Ia tak juga mengerti benda apa yang di bawa si tupai.

Pagi itu, pak tua tidak seperti biasa. Ia berdandan agak rapi. Ia bermaksud pergi ke kota untuk mencari tahu benda yang dibawa sang tupai. Sesampai di kota ia langsung menuju toko emas. Betapa bahagianya pak tua, karena benar dugaannya ternyata yang di bawa si tupai benar berlian adanya. Akhirnya dijuallah berlian itu. Dan ditukarkan dengan segala macam kebutuhan hidupnya. Sepulang dari kota, pak tua segera memeluk si tupai. “terima kasih tupai.. terima kasih..kau menyelamatkan hidupku”, bisik pak tua sambil meneteskan air mata. Si tupai terdiam, seakan ia ingin mengatakan bahwa dirinya ingin mebalas budi baik pak tua yang telah menolongnya.

Sejak saat itu, si tupai selalu pergi sore hari dan pulang pagi harinya. Dan setiap pulang si tupai selalu membawa sebutir berlian yang digigitnya. Entah dari mana ia mendapatkannya, tapi nampaknya dari tempat yang amat jauh.

Singkat cerita, dari hari ke hari kehidupan pak tua makin membaik. Si tupai dengan setia membawakannya butiran berlian. Kini si miskin telah berubah menjadi orang yang kaya. Rumahnya yang dulu kecil dan hanya dibuat dari bambu, kini telah berubah menjadi rumah gedung yang megah. Ladangnya yang dulu hanya sepetak, kini telah ada dimana-mana. Pak tua kini menjadi juragan kaya dengan banyak pekerja yang membantunya.

Namun sayang,  pak tua lupa akan kemiskinan yang pernah dilaluinya. Kekayaan telah membuatnya SERAKAH.  Ia mulai berpikir licik. “Kalau seekor tupai saja telah membuatku kaya, bagaimana kalau aku punya banyak tupai yang bekerja mencarikan butiran berlian untukku. Tentu aku akan kaya raya”, bisik pak tua. Kini, pak tua mulai menyusun rencana jahatnya.

Pak tua benar-benar galap mata. Keinginannya untuk menjadi orang terkaya di desanya, telah membuatnya kehilangan hati nurani. Rasa kasih sayangnya pada sesama kini mulai pudar. Ia termakan oleh SIFAT SERAKAHNYA.

Suatu hari, ia sengaja berburu tupai. Puluhan tupai berhasil ia tangkap.Kemudian pak tua sengaja menyiksa tupai-tupai itu hingga babak belur. Sebagian diantaranya hampir mati. Setelah tak berdaya, lalu pak tua segera merawatnya, dengan harapan nantinya si tupai akan membalas budi baiknya. Diobati luka-lukanya, diberikannya mereka makan yang lezat, diberikanya tempat tidur di ranjang dengan kasur yang empuk dan diselimutinya mereka dengan hati-hati. Namun semua itu ia lakukan BUKAN KARENA KASIH SAYANG. Tidak seperti dulu. Selain kejam, perlakuannya kini tak ikhlas lagi. Pak tua berharap, jika tupai-tupainya telah sembuh nanti akan berbuat seperti tupai terdahulu. Mencarikannya berlian tiap hari, hingga menjadikannya kaya raya.

Namun dugaan pak tua salah. Binatangpun bisa membedakan budi baik dan perlakuan jahat. Tupai-tupai itu tahu bahwa sebenarnya pak tua kini telah berubah menjadi orang yang jahat. Akhirnya setelah tupai-tupai itu sembuh, mereka menyusun rencana untuk membalas kejahatan pak tua.

Di suatu malam, ketika pak tua sedang tak ada dirumah, tupai-tupai itu membakar rumah pak tua. Mereka beramai ramai menjatuhkan lampu minyak yang tergantung di ruang tengah rumahnya. Kemudian kebakaran pun terjadi. Rumah pak tua ludes terbakar. Bukan itu saja, tupai-tupai itu menyerbu ladang-ladang pak tua, hingga seluruh tanaman hancur dan menyebabkan gagal panen.

Sepulang dari bebergian, pak tua langsung tertegun lemas melihat rumahnya yang telah ludes terbakar. Ia menjadi kian histeris ketika menyadari bahwa seluruh ladangnya telah hancur.

Kini pak tua menyadari kesalahanya, ia telah SERAKAH dan TIDAK BERSYUKUR TERHADAP APA YANG TELAH IA TERIMA. Ia teringat kembali kekejamannya terhadap para tupai. Kini ia harus menanggung akibatnya. Namun penyesalan tiada guna. Sudah terlambat. Ibarat nasi telah menjadi bubur. Semua ladang yang dimilikinya harus dijual untuk membiayai para pekerja yang telah membantunya. Akhirnya, pak tani itu kembali hidup miskin lagi.

SEMOGA KITA BISA MENSYUKURI APA YANG KITA MILIKI. DAN JANGAN MENJADI ORANG YANG SERAKAH SEPERTI KISAH PAK TANI MISKIN TADI.

 

PESAN UNTUK ADIK-ADIK :

Sifat-sifat buruk seperti : serakah, kejam, menyakiti sesama, iri, dengki, jahat merupakan sifat dasar yang melekat pada diri manusia. Sifat-sifat itu harus dijauhi, karena sifat itu akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Kita harus menumbuhkan sifat-sifat baik yang ada pada diri kita, seperti : kasih sayang terhadap sesama, tolong menolong, sabar, mensyukuri nikmat yang telah kita terima, tidak sombong dan tinggi hati, serta mencintai sesama seperti halnya kita mencintai diri kita sendiri.

 

Tim Pembimbing “GSI”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: